Peraih Mendali Emas Pertama Olimpiade
SUSI SUSANTI.
Lagenda Bulutaangkis Putri.
Prestasi
yang mengharumkan nama bangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan
kejuaraan. Dia menjuarai All England empat kali (1990, 1991, 1993, 1994). Sang
juara yang punya semangat pantang menyerah ini selalu menjadi ujung tombak tim
Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand
prix.
Kiprah Legenda Bulutangkis Putri
Susi Susanti di dunia olahraga Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia
menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka
penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh
dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut
menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum
lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun
1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.
Semenjak SD, Susi sudah suka bermain Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan memberinya
kebebasan untuk menjadi atlit Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari Tasikmalaya ke
Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP, ia sudah mulai berpikir
untuk serius di dunia bulutangkis.
Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama dan
bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper karena hanya
berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin
- Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai
jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga ada aturannya tersendiri. Ia
tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakinya terhindar
dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada
hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi untuk
menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu
perjuangan dan pengorbanan. "Kalau mau santai dan senang-senang terus,
mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang
rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga
kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian," kata Susi
mengenang.
Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh
bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau
di luar latihan. Sementara di lapangan ia memperlihatkan semangat pantang
menyerah sebelum pertandingan berakhir. "Saya hanya berharap teman-teman
pemain mengikuti yang baik-baik dari saya," kata Susi.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia Audina),
sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan
puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade
Athena 2004.
Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan
bibit pemain unggul. "Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk
berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?" Susi melihat
popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui
kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias
oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan
bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal ini disebabkan karena
perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus
penyalahgunaan obat terlarang, seperti shabu dan narkotika.
Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, atau menyaksikan berita-berita
kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa. Itu tentu berbeda dengan
era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir
mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga
Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi sendiri sudah
berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat
pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA
Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah
yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan
dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya
sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari
organisasi yang tidak menyukainya. Meski ia berprestasi namun kemudian
berhenti, dari situlah ia mendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa
menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana
pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum
terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet
akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. "Saya
harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus,
hasilnya akan seperti sekarang ini," ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama
ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi
pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI
hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat,
baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Ia beranggapan, semua orangtua
saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi.
Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang.
Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan dengan asumsi mereka berdua
dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah
maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang terlibat di
PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar
ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, Susi
belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar me-manage
keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus, ia
usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Ia
tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan hidup
sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang Lihat
Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya,
agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol lagi. Meski
ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar
dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan
Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga
mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar
menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di
Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka
berdua harus memulai lagi dari nol.
Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang terdekatnya.
Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru
sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri sendiri dan mempunyai
keyakinan membuat usaha sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama Lihat
Daftar Tokoh Perempuan
perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah
lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga ingin ikut
membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin mempunyai kesibukan
tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama
D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia menjual baju-baju dari
Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari
International Badminton Federation (IBF) 'Hall of Fame' 2004 ini tetap peduli dengan
dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma -
peraih medali emas Olimpiade 1992 pula - ia mendirikan Olympic Badminton Hall
di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan
muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket dengan
merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan,
tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya,
dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke
teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima.
Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang
pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan
Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan
baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di
final Piala Dunia di Jakarta.
Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah mereka nan
tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek Gading Kirana, Jakarta
Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan masih rutin main bulutangkis.
e-ti/atur
Nama : lingga sari putri
kelas : 1pa01
npm : 16514093
Prestasi yang
mengharumkan nama bangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan
kejuaraan. Dia menjuarai All England empat kali (1990, 1991, 1993,
1994). Sang juara yang punya semangat pantang menyerah ini selalu
menjadi ujung tombak tim Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.
Kiprah Legenda Bulutangkis Putri
Susi Susanti di dunia olahraga Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan,
ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat
angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya
tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya
bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini
turut menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai
sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat
merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari
Indonesia.
Semenjak SD, Susi sudah suka bermain Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan
memberinya kebebasan untuk menjadi atlit Pemain Bulutangkis Pelatnas
(1971-1986)
bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari
Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP,
ia sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.
Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama
dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper
karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan
atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam
seminggu, Senin - Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung
lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga
ada aturannya tersendiri. Ia tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan
hak tinggi agar kakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan
ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang
karena ia sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi
untuk menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi
memang perlu perjuangan dan pengorbanan. "Kalau mau santai dan
senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara
bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan
saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit
dahulu, bersenang-senang kemudian," kata Susi mengenang.
Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya
sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan
waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan ia
memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir.
"Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari
saya," kata Susi.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia
Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin
jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos
ke Olimpiade Athena 2004.
Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang
kekurangan bibit pemain unggul. "Kita bisa saja memberi prasayarat
pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?" Susi
melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi
melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang
antusias oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat
menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal
ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke
hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang,
seperti shabu dan narkotika.
Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, atau menyaksikan
berita-berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa. Itu
tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B
Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia
olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi
sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia
olahraga mengingat pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang
pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya
terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko
misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak
mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa
mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak
halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya.
Meski ia berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah ia mendapat
pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain
diberikan dana pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa
depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah,
bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan
memilih jalur pendidikan. "Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan
persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang
ini," ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin
terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang
ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan
olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah,
memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi
saja. Ia beranggapan, semua orangtua saat ini akan seratus kali
berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam
organisasi. Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu
yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan
dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan
sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai
kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang
terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang
yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk
kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para
atlit, Susi belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar
me-manage keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah
seperti bonus, ia usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah,
rumah atau tabungan. Ia tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan
tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan
hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra,
seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis
Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi
sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol
lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi
masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia
jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai
jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu
menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat
olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua
menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus
memulai lagi dari nol.
Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang
terdekatnya. Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan
pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri
sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga
adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga
ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin
mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas
dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia
menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk
lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi
bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) 'Hall of Fame'
2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini.
Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma - peraih medali emas Olimpiade 1992
pula - ia mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung
pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan muncul bibit pemain
yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket
dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya
ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara
pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya
mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk
mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas
Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona
1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang
paling mengesalkan baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari
Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah
mereka nan tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek
Gading Kirana, Jakarta Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan
masih rutin main bulutangkis. e-ti/atur
Sumber:
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2201-peraih-emas-pertama-olimpiade
Copyright © tokohindonesia.com