TUGAS
PSIKOLOGI MANAJEMEN
1. Apa yang dimaksud dengan SDM?
SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) adalah suatu factor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaska dari sebuah orgnisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembngan perusahaan pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang dipekerjakan disebuah organisasi sebagaai penggerak untuk mencapai tujuan organisasi itu.
Pengertian SDM dapat dibagi menjadi 2, yaitu pengertian mikro dan makro.
Pengertian SDM secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan sebagainya.
Sedangkan pengertian SDM secara makro adalah penduduk suatu Negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Secara garis besar pengertian sumber daya manusia adaalah individu yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi baik institusi maupun perusahaan dan berfungsi sebagai asset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuan nya.
2. Aktivitas apa saja yang dilakukan SDM itu sendiri?
Menurut Tangkilisan (2003:5-6) aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan manajeman sumber daya manusia secara umum mencangkup :
Desain organisasi
Penempatan
Pengembang pegawai dan organisasi
Penilaian kinerja dan manajemen
System penghargaan dan insentif
Peningkatan produktivitas
Hubungan atasan dan bawahan
Kesehatan dan keamanan
3. Apa itu kepemimpinan?
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukan nya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin atau praktisi.
4. apa manfaat kepemimpinan bagi SDM itu sendiri?
Kepemimpinan dalam SDM didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang agar mau mengikuti arahannya atau mengikuti putusannya.
Menurut kouzes dan posner kepemiminan didefinisikan secara agar berbeda dari pengertian diatas, yakni hubungan timbal balik antara mereka yang memilih untuk mengukuti, jadi kepemimpinan menyangkut dinamika hubungan yang timbul karena adanya kebutuhan diantara pemimpin yang dipimpin.
DAFTAR PUSTAKA
Greer, Charles R. Strategy and Human Resources: a General Managerial Perspektive.New Jersey: Prentice Hall, 1995.
Tangkilasan, Nogi S. 2003. Manajemen Sember Daya Manusia Birokrasi Publik. Yogyakarta: Lukman Office
James M. Kouzes dan Barry Z. Posner The Leadership Challenge: How to Keep Getting Extraordinary Things Done In Organizations (San Fransisco: Jossey-Bass Publishers, 1995), pp. 6-7.
Tuesday, October 4, 2016
Tuesday, June 21, 2016
Analisis kasus Phobia kecoa
Nama : Lingga sari putri
kelas : 2PA13
NPM : 16514093
kelas : 2PA13
NPM : 16514093
Analisis
kasus : Phobia Kecoa
Anak
saya Kinanty, 9 tahun, sangat takut dengan kecoa, kalau Ia sedang ke dapur dan
melihat kecoa ia langsung ngibrit lari dan memanggil mbaaaaaahhhh…ada
kecoaaaaaa. Begitupun bila Ia mendapati kecoa di kamar mandi Ia langsung lari.
Pengalaman itu membuat Ia takut bila ingin mengambil piring ke dapur atau ke
kamar mandi.
Saya
coba lakukan tapping pada anak saya terhadap rasa takut pada kecoa. Saya
memintanya untuk mengikuti setup word yang saya ucapkan dan memintanya membayangkan
kecoa ketika saya tapping. Satu putaran tidak membuat hilang takutnya pada
kecoa. Saya ketahui ini ketika saya memintanya untuk membayangkan kecoa dan Ia
mengatakan masih takut. Lalu saya coba gali lebih spesifik dengan menanyakan
pengalaman dengan kecoa yang pernah Ia alami. Anak saya mengatakan takut bila
melihat kecoa terbang. Lalu saya lakukan tapping dengan aspek tersebut. Setelah
itu saya meminta Ia membayangkan kembali kecoa yang terbang tapi ia mengatakan
masih takut. Saya tanyakan kembali hal apa yang diingat ketika ia takut melihat
kecoa, Anak saya mengatakan ia takut dengan sayap kecoa ketika terbang. Lalu
saya tapping dengan aspek tersebut. Setelah tapping dengan versi sortcut saya
meminta anak saya membanyangkan kembali. Tapi ia masih merasa takut. Kemudian
saya mencoba gali kembali pengalaman yang lalu. Kali ini anak saya mengatakan
dulu sewaktu ia mencuci piring pernah dihinggapi oleh kecoa. Lalu saya kembali
melakukan tapping dengan aspek ini. Setelah saya meminta membayangkan peristiwa
itu kembali ia mengatakan kini ia tidak takut lagi pada kecoa. Saya mendapati
bukti bahwa anak saya sudah hilang takut pada kecoanya dari laporan ibu saya
yang mengatakan bahwa anak saya sudah tidak lari ataupun bereakti ketika ada
kecoa di dapur dan kamar mandi.
Teori
pskologi tentang phobia
Teori Psikoanalisis. Menurut
Freud, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan oleh
impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang
ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi
simbolik dengannya. Fobia adalah cara ego untuk menghindari konfrontasi dengan
masalah sebenarnya, yaitu konfik masa kecil yang ditekan.
Teori Behavioral. Teori
behavioral berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia.
Beberapa tipe pembelajaran mungkin berperan.
Avoidance Conditioning.
Penjelasan utama behavioral tentang fobia adalah reaksi semacam itu merupakan
respons avoidance yang dipelajari. Dalam sejarah, demonstrasi Watson dan Rayner
(1920) mengenai pengondisian terhadap suatu rasa takut atau fobia yang terlihat
jelas pada Little Albert dianggap sebagai model mengenai bagaimana fobia dapat
terjadi. Formulasi avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua
faktor yang diajukan oleh Mowrer (1947) dan menyatakan bahwa fobia berkembang
dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan.
1. Melalui classical
conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus
netral (CS) jika stimulus tersebut dipasangkan dengan keadian yang secara
intrinsik menyakitkan atau menakutkan (UCS)
2. Seseorang dapat belajar
mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari
atau menghindari CS. Jenis pembelajaran yang kedua ini diasumsikan
sebagai operant conditioning; respons dipertahankan oleh konsekuensi
mengurangi ketakutan yang menguatkan.
Mungkin ketiadaan suatu UCS bukan
merupakan hal penting karena kunci atas ketakutan yang dikondisikan adalah UCR
(Forsyth & Eilert, 1998). Yaitu, seseorang yang mengalami episode
ketegangan fisiologis yang mendalam (UCR), karena beberapa alasan yang tidak
disadarinya, dapat secara salah menyimpulkan bahwa situasi yang tidak berbahaya
telah menyebabkan ketegangan dan ketakutan tersebut sehingga dapat menimbulkan
fobia. Namun, jika situasi yang dihadapi seseorang tidak bersifat traumatis,
tidak terdapat UCS yang jelas.
Kemungkinan solusi lain untuk
memecahkan teka-teki fobia yang terjadi tanpa keterpaparan dengan UCS yang
menakutkan adalah melalui modeling.
Teori Kognitif. Sudut pandang
kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada
bagaimana proses berpikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada
bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan
kemungkinan yang lebih hesar untuk menanggapi stimuli negatif, menginterpretasi
informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan memercayai
bahwa kejadian negatf memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa
mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; Turk dkk.,2001). lsu utama dalam
teori ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah
kecemasan menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental
mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan
di laboratorium (Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah
bias kognitif menjadi penyebab gangguan
anxietas.
Faktor-faktor Biologis yang
Memengaruhi. Berbagai Teori yang telah kita bahas terutama melihat pada
lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia menetap. Namun,
mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistik, sedangkan yang
lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajaran yang sama? Mungkin
mereka yang secara negatif sangat terpengaruh oleh stres memiliki malfungsi
biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu terjadinya
fobia setelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut
tampaknya menjanjikan: sistem saraf otonom dan faktor genetik.
Sistem Saraf Otonom. Seperti
disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami fobia sosial sering kali
merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan
di depan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem
saraf otonom, aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan
merupakan suatu diathesis. Namun demikian, sebagian besar bukti tidak
menunjukkan bahwa orang-orang yang menderita fobia sangat berbeda dalam
pengendalian berbagai bentuk aktivitas otonomik, walaupun saat berada dalam
situasi seperti berbicara di depan umum yang diharapkan akan terjadi perbedaan.
Mungkin ketakutan terhadap memerahnya wajah atau berkeringat sama pentingnya
dengan wajah yang benar-benar memerah atau berkeringat.
Faktor Genetik. Beberapa studi
telah menguji apakah faktor genetik berperan dalam fobia. Fobia darah dan
penyuntikan sangat familial; 64 persen pasien fobia darah dan penyuntikan
memiliki sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang menderita
gangguan yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam populasi umum hanya 3
sampai 4 persen (Ost, 1992). Sama dengan itu, baik untuk fobia sosial maupun
fobla spesifik, prevalensinya lebih tinggi dibanding rata-rata pada keluarga
tingkat pertama pasien, dan studi terhadap orang kembar menunjukkan kesesuaian
yang lebih tinggi pada kembar MZ dibanding kembar DZ (Hettema M. Neale, Gt
Kcndler, 2001).
Sumber : Psikologi Abnormal Edisi ke-9 : Gerald C Davidson, John M. Neale, Ann M Kring : 2006
Sumber : Psikologi Abnormal Edisi ke-9 : Gerald C Davidson, John M. Neale, Ann M Kring : 2006
·
Pemahaman tentang kesehatan
mental
Kesehatan mental adalah suatu
mental yang sedang sakit atau gangguan mental pada seseorang yang mengalami
kelainan/sakit bukan pada fisik melainkan jiwa nya. Penderita kesehatan mental
biasanya ada kesalahan di bagian otak, sehingga penanganan penyakit mental
mirip dengan sakit fisik yaitu melalui medikasi.
Biasanya orang yang mengalami
gangguan pada jiwanya, tidak memiliki kesadaran akan hal-hal yang dilakukan.
Jika menurut masyarakat Indonesia dan india mengganggap orang yang memiliki
gangguan jiwa tidak sakit melainkan seperti di rasuki oleh roh.. mungkin
sebagian besar orang basar berfikir seperti itu karna persepsi yang secara
logika bisa di tangkap atau pahami oleh masyarakat luas.
Mental bisa terganggu karena ada
tekanan masa lalu yang buruk atau menyakitkan yang membuat si penderita ini
merasa ketakutan, merasa bersalah dan traumatic.
Monday, March 28, 2016
DEPRESI
Nama
: Lingga sari putri
Kelas
: 2PA13
Tugas
individu : Keshatan mental #
DEPRESI
Menurut Suryantha
Chandra (2002 : 8), depresi adalah suatu bentuk gangguan suasana hati yang
mempengaruhi kepribadian seseorang. Depresi juga merupakan perasaan sinonim dengan
perasaan sedih, murung, kesal, tidak bahagia dan menderita. Individu umumnya
menggunakan istilah depresi untuk merujuk pada keadaan atau suasana yang
melibatkan kesedihan, rasa kesal, tidak mempunyai harga diri, dan tidak
bertenaga. Individu yang menderita depresi aktifitas fisiknya menurun, berpikir
sangat lambat, kepercayaan diri menurun, semangat dan minat hilang, kelelahan
yang sangat, insomnia, atau gangguan fisik seperti sakit kepala, gangguan
pencernaan, rasa sesak didada, hingga keinginan untuk bunuh diri (John &
James, 1990 : 2).
Salah satu gejala
depresi adalah pikiran dan gerakan motorik yang serba lamban (retardasi
psikomotor), fungsi kognitif (aktifitas mental emosional untuk belajar,
mengingat, merencanakan, mencipta, dan sebagainya) terganggu. Jadi depresi
mencakup dua hal kesadaran yaitu menurunnya aktifitas dan perubahan suasana
hati. Perubahan perilaku orang yang depresi berbeda - beda dari yang ringan
sampai pada kesulitan - kesulitan yang mendalam disertai dengan tangisan,
ekspresi kesedihan, tubuh lunglai dan gaya gerak lambat (A. Supratiknya, 1995 :
67).
Ciri-ciri
orang yang mengalami depresi:
1. Lesu
Saat dalam kondisi depresi, penderita depresi akan kehilangan semangat seakan-akan menghadapi banyak masalah. Wajahnya terlihat lesu dan memelas, sekaligus membuat orang kasihan kepadanya. Penderita depresi juga akan kehilangan gairah seksual atau malas berhubungan intim.
Saat dalam kondisi depresi, penderita depresi akan kehilangan semangat seakan-akan menghadapi banyak masalah. Wajahnya terlihat lesu dan memelas, sekaligus membuat orang kasihan kepadanya. Penderita depresi juga akan kehilangan gairah seksual atau malas berhubungan intim.
2. Gelisah
Penderita depresi akan mengalami penurunan produktivitas karena gelisah dan tidak nyaman dalam keadaan apa pun. Selain itu, penderita akan mudah marah dan sangat impulsif. Hal ini bisa mengakibatan penderita mengambil keputusan tanpa pikir panjang yang terkadang bisa membahayakan dirinya. Misalnya, ingin bunuh diri.
Penderita depresi akan mengalami penurunan produktivitas karena gelisah dan tidak nyaman dalam keadaan apa pun. Selain itu, penderita akan mudah marah dan sangat impulsif. Hal ini bisa mengakibatan penderita mengambil keputusan tanpa pikir panjang yang terkadang bisa membahayakan dirinya. Misalnya, ingin bunuh diri.
3. Menyendiri
Saat seseorang mengalami depresi, ia cenderung malas bergaul dengan siapa pun. Mereka lebih sering menyendiri dan memilih mengunci diri di kamar.
Saat seseorang mengalami depresi, ia cenderung malas bergaul dengan siapa pun. Mereka lebih sering menyendiri dan memilih mengunci diri di kamar.
4. Tidak Makan
Orang yang mengalami depresi akan kehilangan selera makan dan bahkan tidak makan, sehingga penderita akan lemas dan tidak semangat.
Orang yang mengalami depresi akan kehilangan selera makan dan bahkan tidak makan, sehingga penderita akan lemas dan tidak semangat.
Beberapa ciri lain seseorang sedang
mengalami depresi antara lain susah berkonsentrasi, merasa tidak berharga,
merasa bersalah, insomnia, malas tidur karena terus memikirkan suatu masalah,
merasa sakit secara fisik dalam kurun waktu yang lama, dan cenderung ingin
bunuh diri.
Apa Penyebab Utama Depresi?
Kurang Berpikir Positif
Ketika seseorang
mengalami depresi, mereka merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, dan hal
ini akan terjadi berulang kali. Dalam kejadian semacam ini, orang tersebut melihat
lebih banyak hal buruk terhadap sesuatu; secara sadar maupun tidak sadar.
Mereka selalu memfokuskan perhatian mereka pada masalah dan mengabaikan
keberhasilan serta kesuksesan yang mereka raih.
Bagi seseorang yang berpikiran negatif dan memiliki kecenderungan depresi, segala hal yang terjadi merupakan cermin dari permasalahan dan kemunduran. Perubahan dalam diri seseorang atau perubahan lingkungan, yang merupakan perubahan wajar, dalam pikiran seseorang yang depresi merupakan bukti bahwa sesuatu yang buruk terjadi karena mereka.
Bagi seseorang yang berpikiran negatif dan memiliki kecenderungan depresi, segala hal yang terjadi merupakan cermin dari permasalahan dan kemunduran. Perubahan dalam diri seseorang atau perubahan lingkungan, yang merupakan perubahan wajar, dalam pikiran seseorang yang depresi merupakan bukti bahwa sesuatu yang buruk terjadi karena mereka.
1.
Kurangnya rasa percaya
diri
2.
Lebih memperhatikan
kesalahan
3.
Merasa tertekan karena
kewajiban dalam hidup
4.
Merasa lemah
Bagaimana Mengatasi Depresi dengan
Mengandalkan Diri Sendiri?
Selain bantuan
dari seorang spesialis, anda bisa mengatasi depresi dengan mengandalkan diri
anda sendiri; antara lain dengan:
1.
Menerima
diri anda sendiri dan kelemahan anda
Jika anda tidak mampu mengatasi depresi
seorang diri dan jika usaha anda tidak berhasil, hal terbaik yang bisa anda
lakukan adalah dengan menerima kekurangan tersebut. Daripada mencoba mengubah
hidup anda dengan paksa, anda harus menerima diri anda, dengan apa yang anda
rasakan dan berkonsentrasi pada hal-hal yang anda mampu lakukan.
Depresi akan lenyap namun kita tidak
bisa memprediksi kapan depresi akan terjadi. Kemajuan terapis tergantung pada
banyak faktor.
2.
Kenali
pikiran-pikiran dan perasaan negative anda
Supaya anda mampu
mengubah dan mengendalikan pikiran negatif yang membuat anda terperangkap dalam
siklus depresi, sangatlah penting bagi anda untuk mengenali alasan-alasan
tersebut, yang merupakan penyebab utama anda merasa depresi.
Teknik yang dapat digunakan adalah dengan mencatat pikiran negatif anda setiap hari selama beberapa waktu. Lalu anda bisa menghabiskan waktu kira-kira 20 menit setiap hari untuk mengenali, mengelompokkan, dan memeriksa pikiran-pikiran negatif tersebut. Catatan pikiran-pikiran anda dan pemeriksaan atas penyebab rasa depresi tersebut akan membuat anda mampu mengenali alasan mengapa anda terdorong ke keadaan mental yang buruk dan berakhir dengan depresi.
Teknik yang dapat digunakan adalah dengan mencatat pikiran negatif anda setiap hari selama beberapa waktu. Lalu anda bisa menghabiskan waktu kira-kira 20 menit setiap hari untuk mengenali, mengelompokkan, dan memeriksa pikiran-pikiran negatif tersebut. Catatan pikiran-pikiran anda dan pemeriksaan atas penyebab rasa depresi tersebut akan membuat anda mampu mengenali alasan mengapa anda terdorong ke keadaan mental yang buruk dan berakhir dengan depresi.
Bagaimana Mengatasi Depresi Dengan
Pengobatan
Meskipun anda
memiliki alasan yang tepat untuk menghindari penggunaan obat yang berlebihan,
anda bisa mengatasi depresi dengan menggunakan obat-obatan; khususnya obat anti
depresi.
Obat anti
depresi mempengaruhi otak dan sel-sel syaraf. Secara lebih spesifik,
obat-obatan bekerja dengan mengubah reaksi kimia (neurotransmitter), yang
digunakan sel syaraf untuk berkomunikasi satu sama lain.
Obat anti
depresi merupakan obat yang aman untuk digunakan. Obat semacam ini tidak
menimbulkan ketergantungan; tidak mempunyai efek samping yang berbahaya dan
dapat membantu anda mengatasi depresi. Tujuan menggunakan obat anti depresi
bukanlah untuk mengatasi masalah
anda dengan cepat, namun untuk memberikan diri anda kesempatan untuk merasa lebih baik.
PERHATIAN: penggunaan obat anti depresi apapun harus dilakukan setelah konsultasi dan pemberian resep dokter.
anda dengan cepat, namun untuk memberikan diri anda kesempatan untuk merasa lebih baik.
PERHATIAN: penggunaan obat anti depresi apapun harus dilakukan setelah konsultasi dan pemberian resep dokter.
Bagaimana Mengatasi Depresi Menggunakan
Psikoterapi – Cara Terbaik untuk Mengatasi Depresi
Depresi
merupakan indikasi bahwa anda memiliki masalah dalam diri anda yang harus anda
temukan solusinya. Depresi bukan hanya sekedar penyakit, melainkan sinyal dari
otak yang harus anda pecahkan.
Mengatasi depresi harus anda lakukan sebagai cara untuk mengembangkan diri anda dan imbalan untuk mengubah hidup, otak, dan pola pikir anda.
Mengatasi depresi harus anda lakukan sebagai cara untuk mengembangkan diri anda dan imbalan untuk mengubah hidup, otak, dan pola pikir anda.
Ahli Psikoterapi
dapat membantu anda memahami alasan-alasan psikologis yang menyebabkan depresi
dan menawarkan anda dukungan untuk melalui proses yang sulit tersebut.
Sumber:
http://dekhiandika.blogspot.co.id/2011/12/macam-macam-gangguan-psikologis.html
http://www.kutaitimurkab.go.id/ciri-ciri-terkena-depresi-dan-bagaimana-cara-mengatasinya/
Friday, November 20, 2015
psi & teknologi internet
Pengaruh teknologi internet terhadap perkembangan anak!
Pada usia 4-5 tahun, anak-anak sedang berada dalam fase “serba ingin tahu”, saat mereka selalu penasaran dengan hal-hal baru yang menarik perhatian mereka. Ada dua hal yang dapat mulai Anak pelajari pada usia ini, yaitu:
1. Menggunakan internet di bawah pengawasan orang tua
2. Memainkan video games yang mengajaknya bergerak.
Memasuki fase “serba ingin tahu”-nya, Anda bisa mulai memperkenalkan penggunaan komputer pada anak. Sebab, selain tayangan interaktif edukatif di TV khusus anak seperti ¬Nick ¬Jr. atau Cbeebies, Anda juga perlu mengenalkan komputer sebagai proses belajar anak.
Anda akan merasakan manfaatnya saat nanti anak mulai mendapatkan tugas sekolah yang memerlukan penggunaan komputer.Komputer itu sendiripun nantinya akan digunakan beserta jaringan internet yang akan membantu anak mencari info-info untuk tugas sekolahnya nanti.
Memang tidak dapat dipungkiri, internet akan membuat Anda khawatir. Anda tidak tahu apakah anak Anda memang sedang memainkan permainan edukatif di internet, atau malah menonton lucunya tingkah tokoh kartun favoritnya di Youtube.
Oleh sebab itu, kuncinya adalah pengawasan. Anda tidak perlu membuatsoftware keamanan agar anak Anda tidak membuka situs yang tidak Anda inginkan. Andalah pengaman terbaik baginya.
Satu hal yang harus diingat, semakin besar anak, akan semakin besar pula kesempatan yang ia miliki untuk menggunakan teknologi. Apalagi saat ini sosial media sudah menjadi wadah umum bagi banyak orang untuk mencari info, bersosialisasi, dsb. Jadi, Anda harus pintar-pintar memperhatikan jumlah waktu yang anakhabiskan di depan layar (baik televisi, komputer, hingga iPad).
Dan jangan lupa juga untuk selalu menanamkan pada anak sejak dini bahwa keberadaan computer, internet, dan segala macam teknologi yang ada sekarang harus membawa pengaruh yang positif, bukan justru menjerumuskan dan akhirnya merugikan diri sendiri.
Dampak positif anak terhadap internet.
Menggunakan internet dan komputer sebagai media yang efektif untuk membangun komunikasi antar sekolah, guru, siswa dan orang tua, lembaga pendidikan telah mampu menangani banyak hal yang sebelumnya tidak ditangani dengan mudah karena keterbatasan geografis atau kurangnya teknologi yang memadai.
Peningkatan pembelajaran.
Perkembangan teknologi seperti kamera digital, proyektor, perangkat lunak, komputer, presentasi PowerPoint, alat visualisasi 3D, semua ini telah menjadi sumber daya besar bagi guru untuk membantu siswa untuk memahami konsep dengan mudah. Harus dipahami bahwa penjelasan visual dari konsep akan membuat belajar jadi menyenangkan bagi siswa.
Peningkatan pengetahuan.
Siswa dapat menyelesaikan proyek-proyek penelitian mereka dengan mengacu pada sejumlah besar informasi yang tersedia di internet, yang mampu mengembangkan analisa yang baik dan keterampilan riset. Dengan mengacu pada sejumlah besar sumber daya, siswa dapat menggunakan keterampilan penilaian untuk memilih bahan terbaik dan menggunakannya untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Tidak ada jarak.
Dengan diperkenalkannya program online hampir tidak ada kebutuhan secara fisik di dalam kelas. Bahkan beberapa universitas luar negeri sudah memulai program online. Pembelajaran jarak jauh dan pendidikan online telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan saat ini.
Dampak negatif teknologi pada pendidikan
Malas!
Teknologi membuat siswa kurang produktif dan malas. Sebuah keyakinan bahwa mesin pencari selalu ada, telah membuat siswa tidak sabar. Mereka hanya melakukan copy paste informasi untuk menyelesaikan tugas dengan cepat.
Curang!
Perkembangan teknologi seperti kalkulator grafik, jam tangan berteknologi tinggi, kamera mini, handphone dan peralatan serupa telah menjadi sumber untuk berbuat curang dalam ujian. Hal ini lebih mudah bagi siswa untuk menulis rumus dan catatan pada kalkulator grafik.
Kurangnya fokus!
SMS atau pesan singkat telah menjadi hobi favorit banyak siswa. Siswa terlihat bermain dengan ponsel mereka siang dan malam, ketika menyeberang jalan, atau bahkan saat mengemudi dan juga saat berada dalam kelas. Menjadi selalu terhubung ke dunia online telah mengakibatkan kurangnya fokus dan konsentrasi di bidang akademik, bahkan dalam olahraga dan kegiatan ekstra kurikuler.
Ketrampilan menulis menurun!
Dapat dimengerti bahwa dalam era komputer, hampir tidak ada kebutuhan ketrampilan menulis. Dengan menulis, membuat kita lebih fokus dan memberi kita kesempatan untuk mengekspresikan diri lebih mendalam. Keterampilan menulis juga menyampaikan aspek yang lebih dalam tentang kepribadian kita seperti kemampuan organisasi dan kemampuan untuk mengekspresikan ide-ide kita dengan cara yang halus. Mengetik di keyboard tidak mengganggu kreativitas dalam menulis.
Manfaat Internet dalam Pendidikan!!!
Penggunaan teknologi adalah untuk meningkatkan taraf pendidikan siswa dan tidak menyia-nyiakan sumber daya seperti waktu dan uang. Karena teknologi memiliki kedua dampak positif dan negatif, kita harus melakukan upaya untuk membantu siswa dan anak-anak dalam .menggunakan teknologi secara tepat
Pada usia 4-5 tahun, anak-anak sedang berada dalam fase “serba ingin tahu”, saat mereka selalu penasaran dengan hal-hal baru yang menarik perhatian mereka. Ada dua hal yang dapat mulai Anak pelajari pada usia ini, yaitu:
1. Menggunakan internet di bawah pengawasan orang tua
2. Memainkan video games yang mengajaknya bergerak.
Memasuki fase “serba ingin tahu”-nya, Anda bisa mulai memperkenalkan penggunaan komputer pada anak. Sebab, selain tayangan interaktif edukatif di TV khusus anak seperti ¬Nick ¬Jr. atau Cbeebies, Anda juga perlu mengenalkan komputer sebagai proses belajar anak.
Anda akan merasakan manfaatnya saat nanti anak mulai mendapatkan tugas sekolah yang memerlukan penggunaan komputer.Komputer itu sendiripun nantinya akan digunakan beserta jaringan internet yang akan membantu anak mencari info-info untuk tugas sekolahnya nanti.
Memang tidak dapat dipungkiri, internet akan membuat Anda khawatir. Anda tidak tahu apakah anak Anda memang sedang memainkan permainan edukatif di internet, atau malah menonton lucunya tingkah tokoh kartun favoritnya di Youtube.
Oleh sebab itu, kuncinya adalah pengawasan. Anda tidak perlu membuatsoftware keamanan agar anak Anda tidak membuka situs yang tidak Anda inginkan. Andalah pengaman terbaik baginya.
Satu hal yang harus diingat, semakin besar anak, akan semakin besar pula kesempatan yang ia miliki untuk menggunakan teknologi. Apalagi saat ini sosial media sudah menjadi wadah umum bagi banyak orang untuk mencari info, bersosialisasi, dsb. Jadi, Anda harus pintar-pintar memperhatikan jumlah waktu yang anakhabiskan di depan layar (baik televisi, komputer, hingga iPad).
Dan jangan lupa juga untuk selalu menanamkan pada anak sejak dini bahwa keberadaan computer, internet, dan segala macam teknologi yang ada sekarang harus membawa pengaruh yang positif, bukan justru menjerumuskan dan akhirnya merugikan diri sendiri.
Dampak positif anak terhadap internet.
Menggunakan internet dan komputer sebagai media yang efektif untuk membangun komunikasi antar sekolah, guru, siswa dan orang tua, lembaga pendidikan telah mampu menangani banyak hal yang sebelumnya tidak ditangani dengan mudah karena keterbatasan geografis atau kurangnya teknologi yang memadai.
Peningkatan pembelajaran.
Perkembangan teknologi seperti kamera digital, proyektor, perangkat lunak, komputer, presentasi PowerPoint, alat visualisasi 3D, semua ini telah menjadi sumber daya besar bagi guru untuk membantu siswa untuk memahami konsep dengan mudah. Harus dipahami bahwa penjelasan visual dari konsep akan membuat belajar jadi menyenangkan bagi siswa.
Peningkatan pengetahuan.
Siswa dapat menyelesaikan proyek-proyek penelitian mereka dengan mengacu pada sejumlah besar informasi yang tersedia di internet, yang mampu mengembangkan analisa yang baik dan keterampilan riset. Dengan mengacu pada sejumlah besar sumber daya, siswa dapat menggunakan keterampilan penilaian untuk memilih bahan terbaik dan menggunakannya untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Tidak ada jarak.
Dengan diperkenalkannya program online hampir tidak ada kebutuhan secara fisik di dalam kelas. Bahkan beberapa universitas luar negeri sudah memulai program online. Pembelajaran jarak jauh dan pendidikan online telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan saat ini.
Dampak negatif teknologi pada pendidikan
Malas!
Teknologi membuat siswa kurang produktif dan malas. Sebuah keyakinan bahwa mesin pencari selalu ada, telah membuat siswa tidak sabar. Mereka hanya melakukan copy paste informasi untuk menyelesaikan tugas dengan cepat.
Curang!
Perkembangan teknologi seperti kalkulator grafik, jam tangan berteknologi tinggi, kamera mini, handphone dan peralatan serupa telah menjadi sumber untuk berbuat curang dalam ujian. Hal ini lebih mudah bagi siswa untuk menulis rumus dan catatan pada kalkulator grafik.
Kurangnya fokus!
SMS atau pesan singkat telah menjadi hobi favorit banyak siswa. Siswa terlihat bermain dengan ponsel mereka siang dan malam, ketika menyeberang jalan, atau bahkan saat mengemudi dan juga saat berada dalam kelas. Menjadi selalu terhubung ke dunia online telah mengakibatkan kurangnya fokus dan konsentrasi di bidang akademik, bahkan dalam olahraga dan kegiatan ekstra kurikuler.
Ketrampilan menulis menurun!
Dapat dimengerti bahwa dalam era komputer, hampir tidak ada kebutuhan ketrampilan menulis. Dengan menulis, membuat kita lebih fokus dan memberi kita kesempatan untuk mengekspresikan diri lebih mendalam. Keterampilan menulis juga menyampaikan aspek yang lebih dalam tentang kepribadian kita seperti kemampuan organisasi dan kemampuan untuk mengekspresikan ide-ide kita dengan cara yang halus. Mengetik di keyboard tidak mengganggu kreativitas dalam menulis.
Manfaat Internet dalam Pendidikan!!!
Penggunaan teknologi adalah untuk meningkatkan taraf pendidikan siswa dan tidak menyia-nyiakan sumber daya seperti waktu dan uang. Karena teknologi memiliki kedua dampak positif dan negatif, kita harus melakukan upaya untuk membantu siswa dan anak-anak dalam .menggunakan teknologi secara tepat
Thursday, October 22, 2015
kaitan internet dengan psikologi
Mengapa hubungan / kaitan psikologi dengan internet itu penting?
Sangat penting karena, setiap manusia memiliki perilaku yang unik, keunikan yang
anda miliki belum tentu dimiliki oleh manusia lainnya.
Berbicara
tentang hubungan psikologi dan internet, yang terlintas di fikiran saya adalah bagaimana
perilaku manusia para pengguna internet, mengekspresikan diri mereka di
internet.
Sebenarnya isi (konten) dari internet
yang menentukan adalah manusia itu sendiri. Bahkan yang menciptakan teknologi
internet adalah manusia juga. Teknologi internet itu sendiri tidak terlepas
dari komputer sebagai medianya.
Di
kalangan para pelajar, jika dahulu mengharuskan mereka bersusah payah mencari
buku dari satu toko buku ke toko buku yang lain, dan juga meng foto copy buku
teman , kini dengan internet buku yang dicari juga sudah ada. Buku yang
disediakan berupa electronic book atau e-book yang memudahkan para penggunanya
untuk membaca tanpa harus membawa buku itu dengan berat karena e-book juga bisa
dibuka di handphone. Setiap manusia memiliki perilaku
yang unik, keunikan yang anda miliki belum tentu dimiliki oleh manusia lainnya.
Berbicara tentang hubungan psikologi
dan internet, yang terlintas di fikiran saya adalah bagaimana perilaku manusia
para pengguna internet, mengekspresikan diri mereka di internet.
Banyak
cara yang mereka gunakan untuk mengeskpresikan diri mereka masing – masing. Ada
yang meluapkan seluruh emosi dari update an status di media sosial, ada yang
melampiaskan seluruh emosinya dengan bermain game online, ada yang membuat
heboh seluruh jagat raya dengan membuat video sendiri untuk meluapkan seluruh
emosi.
Ya, internet dijadikan ruang bebas
bagi mereka yang menyalahgunakan penggunaan internet, ini pun menjadi
kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua. Tidak sedikit juga anak usia dini
yang sudah bisa mengunjungi situs porno di internet. Dampak yang akan terjadi
adalah, orang itu akan menjauh dari lingkungan sekitar, lebih tepatnya tidak
memperdulikan kehidupan dunia nyatanya akan tetapi mementingkan dunia maya.
Mereka akan lebih aktif, dan agresif di dunia maya, karena menganggap bahwa
dunia maya adalah kehidupan mereka yang sebenarnya
Dari
keseluruhan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan psikologi dan
teknologi internet terletak pada bagaimana keduanya saling mempengaruhi dalam
berinteraksi. Bagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh internet terhadap
manusia sebagai pengguna (user) dan bagaimana manusia sebagai
pengguna (user) meng-create isi (konten) dari internet itu
sendiri. Jadi keduanya saling mempengaruhi satu sama lain dengan sangat kuat.
(BK)
Friday, April 24, 2015
Biografi Susi Susanti
Peraih Mendali Emas Pertama Olimpiade
SUSI SUSANTI.
Lagenda Bulutaangkis Putri.
Prestasi
yang mengharumkan nama bangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan
kejuaraan. Dia menjuarai All England empat kali (1990, 1991, 1993, 1994). Sang
juara yang punya semangat pantang menyerah ini selalu menjadi ujung tombak tim
Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.
Kiprah Legenda Bulutangkis Putri
Susi Susanti di dunia olahraga Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.
Semenjak SD, Susi sudah suka bermain Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan memberinya kebebasan untuk menjadi atlit Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP, ia sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.
Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin - Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga ada aturannya tersendiri. Ia tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. "Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian," kata Susi mengenang.
Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan ia memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. "Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya," kata Susi.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.
Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan bibit pemain unggul. "Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?" Susi melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti shabu dan narkotika.
Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, atau menyaksikan berita-berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa. Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya. Meski ia berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah ia mendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. "Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini," ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Ia beranggapan, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi. Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, Susi belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar me-manage keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus, ia usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Ia tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.
Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang terdekatnya. Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) 'Hall of Fame' 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma - peraih medali emas Olimpiade 1992 pula - ia mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah mereka nan tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek Gading Kirana, Jakarta Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan masih rutin main bulutangkis. e-ti/atur
Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.
Kiprah Legenda Bulutangkis Putri
Susi Susanti di dunia olahraga Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.
Semenjak SD, Susi sudah suka bermain Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan memberinya kebebasan untuk menjadi atlit Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP, ia sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.
Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin - Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga ada aturannya tersendiri. Ia tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. "Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian," kata Susi mengenang.
Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan ia memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. "Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya," kata Susi.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.
Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan bibit pemain unggul. "Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?" Susi melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti shabu dan narkotika.
Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, atau menyaksikan berita-berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa. Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya. Meski ia berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah ia mendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. "Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini," ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Ia beranggapan, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi. Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, Susi belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar me-manage keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus, ia usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Ia tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.
Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang terdekatnya. Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) 'Hall of Fame' 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma - peraih medali emas Olimpiade 1992 pula - ia mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah mereka nan tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek Gading Kirana, Jakarta Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan masih rutin main bulutangkis. e-ti/atur
Nama : lingga sari putri
kelas : 1pa01
npm : 16514093
Prestasi yang
mengharumkan nama bangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan
kejuaraan. Dia menjuarai All England empat kali (1990, 1991, 1993,
1994). Sang juara yang punya semangat pantang menyerah ini selalu
menjadi ujung tombak tim Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.
Kiprah Legenda Bulutangkis Putri
Susi Susanti di dunia olahraga Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.
Semenjak SD, Susi sudah suka bermain Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan memberinya kebebasan untuk menjadi atlit Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP, ia sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.
Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin - Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga ada aturannya tersendiri. Ia tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. "Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian," kata Susi mengenang.
Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan ia memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. "Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya," kata Susi.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.
Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan bibit pemain unggul. "Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?" Susi melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti shabu dan narkotika.
Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, atau menyaksikan berita-berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa. Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya. Meski ia berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah ia mendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. "Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini," ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Ia beranggapan, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi. Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, Susi belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar me-manage keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus, ia usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Ia tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.
Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang terdekatnya. Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) 'Hall of Fame' 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma - peraih medali emas Olimpiade 1992 pula - ia mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah mereka nan tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek Gading Kirana, Jakarta Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan masih rutin main bulutangkis. e-ti/atur
Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2201-peraih-emas-pertama-olimpiade
Copyright © tokohindonesia.com
Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.
Kiprah Legenda Bulutangkis Putri
Susi Susanti di dunia olahraga Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang sukses tahun 1989 ketika Piala Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.
Semenjak SD, Susi sudah suka bermain Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Kebetulan orang tuanya juga sangat mendukung dan memberinya kebebasan untuk menjadi atlit Pemain Bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, ia pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu ia masih duduk di bangku 2 SMP, ia sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.
Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lain karena ia tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Ia mengaku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin - Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur, dan pakaian juga ada aturannya tersendiri. Ia tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, ia harus disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Ia akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. "Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian," kata Susi mengenang.
Ketika masih menjadi pemain, Susi berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Ia sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan ia memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. "Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya," kata Susi.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal Susi (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.
Susi yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan bibit pemain unggul. "Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?" Susi melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Susi merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Ia mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Susi melihat hal ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti shabu dan narkotika.
Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, atau menyaksikan berita-berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa. Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Susi sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat pengalamannya dulu. Ia melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Susi sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA). Ia pun menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya. Meski ia berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah ia mendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Ia berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Ia khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. "Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini," ujarnya.
Ia menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Ia beranggapan, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.
Susi mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi. Ketika ia dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepada Susi dan Alan dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari segi organisasi internal, Susi berharap agar orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, Susi belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Susi belajar me-manage keuangannya. Saat ia meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus, ia usahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Ia tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar ia tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Susi harus memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.
Untunglah, Susi dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang yang terdekatnya. Sedikit demi sedikit mereka belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, mereka bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, Susi juga ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anaknya sekolah, ia ingin mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, ia membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Ia menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) 'Hall of Fame' 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suaminya, Alan Budi Kusuma - peraih medali emas Olimpiade 1992 pula - ia mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, Susi berharap akan muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Susi dan Alan membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh mereka sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Terlupakan bagi Susi adalah saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan baginya adalah saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Kini pasangan yang menikah pada 9 Februari 1997 ini tinggal di rumah mereka nan tenang di Gading Kirana Timur I Blok B2 No. 28, Komplek Gading Kirana, Jakarta Utara. Di komplek perumahan ini Susi dan Alan masih rutin main bulutangkis. e-ti/atur
Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2201-peraih-emas-pertama-olimpiade
Copyright © tokohindonesia.com
Subscribe to:
Posts (Atom)


